Cara Mengajari Anak Agar Bisa Cepat Membaca

Cara mengajari anak membaca dan menulis memanglah tidak mudah sehingga kita harus memerlukan strategi dan juga media yang khusus detik membaca adalah salah satu kemampuan berbahasa dimana kemampuan yang lainnya yaitu berbicara, menyimak dan juga menulis. Membaca pada anak yang berusia masih di ini bisa diajarkan sejak kecil.

Mam Wajib Tahu, Cara Mengajari Anak Agar Bisa Cepat Membaca paling Efektif !!

Cara Mengajari Anak Agar Bisa Cepat Membaca paling Efektif

Cepatnya kemampuan membaca pada anak bisa dipengaruhi oleh banyak sekali faktor diantaranya yaitu cara mengajar anak membaca dan menulis yang kurang efektif ataupun memang dari anaknya sendiri yang tidak mempunyai kemampuan ataupun kurang dari kemampuannya.

Ada beberapa hal yang sangat penting sekali yang tentu saja harus kita ketahui cara mengajar anak supaya bisa cepat membaca dengan tujuan mengajari anak membaca dapat dilakukan dengan cepat dan juga dengan hasil yang maksimal.

Di antara cara mengajari anak membaca dengan cepat yaitu selalu ciptakan suasana yang gembira bersama anak kita. Ciptakanlah suasana hati anak supaya senang dan juga akan merasa nyaman ketika menerima pelajaran membaca dari kita.

Metode seperti ini yaitu cara konstruktif dan juga tidak membuat anak menjadi bosan untuk belajar. Ciptakanlah pendekatan dengan cara yang sangat menyenangkan sekali sebelum kita mengajari anak membaca. Cara seperti ini merupakan cara yang paling utama supaya anak kita bisa dengan cepat membaca.

Dalam kondisi apapun, janganlah kita memaksakan anak kita.

Berikanlah stimulus ataupun rangsangan supaya anak dapat cepat membaca. Ajari anak kita dengan kata-kata terlebih dahulu sebelum kita mengajarkan alfabet dikarenakan kata-kata akan lebih cepat diserap oleh mereka. Ketika kita sedang mengajar anak membaca hindarilah suasana yang tegang.

Lakukanlah tes secara berkala namun janganlah terlalu sering. Jika kita mendapati bahwa metode mengajar membaca yang kita lakukan yaitu merasa tidak efektif, maka kita harus menciptakan cara yang baru untuk mengajar membaca yang lebih baik.

Jika diajari dengan semestinya, anak tentu saja akan merasa senang sekali untuk belajar. Ini adalah merupakan metode utama dari cara cepat untuk membaca bagi anak. Selalu sempatkanlah waktu untuk mengajari anak membaca daripada tidak sama sekali.

Dikarenakan unsur utama dari sebuah bahasa yaitu kata dan bukanlah huruf. Kita sebaiknya harus mengajari anak kita membaca dengan kata-kata terlebih dahulu dibandingkan dengan mengajarkan huruf.

Baca Juga Artikel Menarik lainnya : http://www.adiskaputri.abatasa.co.id/post/detail/118442/pendidikan-anak-usia-dini-yang-wajib-anda-ketahui.html

Mengemis dalam Pandangan Agam Islam

Peluh bercucuran dari dahinya. Panas mentari membakar sekujur tubuh. Semua seakan tak dirasa. Perjuangannya telah kukuh membulat: “Tegaknya Islam dan kaum Muslimin di bumi Maluku”. Mereka ikhlas berjemur diri, menghisap asap knalpot yang tentu tak bersahabat untuk kesehatan raganya. Umpatan, cemooh, bahkan semburan ludah sekalipun bagi mereka tak menyurutkan semangat untuk berdiri di simpang-simpang jalan perkotaan. Mereka adalah anak-anak bangsa yang memiliki kepedulian bagi sesama. Kotak-kotak bertuliskan “Dana Dakwah untuk Maluku dan sekitarnya” adalah sahabat duka yang menjadi prasasti, bahwa di Bumi Rempah-rempah masih bercokol ketidakadilan dan kezaliman. Tentu, kehadiran mereka bukanlah untuk dikasihani. Sebab, mereka bukanlah pengemis nan meminta belas kasihan dengan sekeping uang logam. Masjid bawah tanah tuban, salah satu tempat ibadah di jawa timur pantura. Bukan pula kaum jelata yang mengobral harga diri demi sesuap nasi. Kehadiran mereka bukan dipaksa atau terpaksa. Kehadirannya setidaknya bisa menggugah nurani kita untuk mau peduli secara jujur terhadap konflik yang berkepanjangan di Maluku.

Kehadirannya menjadi titian guna mengenang kepiluan yang menakutkan: Idul Fitri berdarah. Saat itulah, keluhuran etika telah dirobek oleh manusia-manusia bejat yang berlindung dibalik tembok gereja. Nafsu angkara murka telah menjadi menu utama dalam setiap ceramah sang pandito. Arogansi dan pelecehan nilai-nilai kemanusiaan telah lebur menyatu dalam khutbah-khutbah keagamaan semu. Emosi massa dibakar. Dihusung untuk membantai. Menganiaya sesama yang tengah merayakan hari kemenangan. Hari itu, debur ombak di Teluk Ambon pun berubah memerah diliputi warna darah. Ambon menangise…. Lebih pahit lagi, nyata, drama itu tak pungkas hanya satu babak. Para penganiaya tak jua mendapatkan ganjaran setimpal. Mereka bebas berkeliaran. Mereka semakin haus memangsa. Melukis peradaban ini dengan darah orang-orang teraniaya. Hukum tak lagi ada dan tegak. Pupus sudah untuk menuntut keadilan. Yang tersisa adalah trauma menghebat, menghantui setiap langkah kehidupan. Sorot mata anak-anak bermain, yang tergambar adalah senjata pembasmi. Melenyapkan lawan, bahkan kawan seiring sekalipun. Bila adu domba menggerogoti mereka.

mengemis dalam islam

Nun jauh di luar Maluku, lembar demi lembar uang rupiah dikumpulkan. Melalui kotak (kencleng) yang mereka bawa, mereka mengetuk kepedulian kita. Mereka ingatkan kita bahwa di sana masih ada baku tikai. Masih ada saudara-saudara kita yang terpuruk dan memerlukan ketulusan kita untuk membantunya. Malu, bila kita lantas tak mau peduli. Kalau kehadiran mereka dirasa merusak harga diri Umat – lantaran dengan cara meminta-minta di jalanan – mestinya yang memiliki rasa malu itulah yang harus lebih menanggung malu. Ya, mengapa mereka sampai menyodorkan kotak-kotak itu di jalanan? Kemanakah orang-orang — yang katanya — memiliki kenikmatan duniawiyah berlebih? Masalahnya, kepekaan kitakah yang masih tumpul atau memang kita tak ada greget untuk peduli. Terlebih untuk mengeluarkan sekadar sedikit harta. Kebakhilan itulah yang mestinya menjadikan kita malu kepada diri sendiri. Bukan malu karena aktifitas mereka.

Bila hendak berbicara jujur, mereka telah secara nyata mewujudkan kepeduliannya kepada Umat tertindas. Lantaran kepeduliaan itu pula mereka tinggalkan anak dan istri. Bahkan, tak sedikit yang harus menggantungkan sejenak harapan menjadi sarjana. Mereka berbuat apa yang mampu menurut mereka. Walau harus dengan cara ngencleng di persimpangan jalan. Mudah-mudahan Allah Ta’ala memberkahi mereka